Dia adalah salah satu dari mereka. Seseorang yang tahu ketika gue sedih dan nelangsa. Tapi tidak mengatakan “Kenapa”—karena dia tahu gue pasti akan bohong en bilang “Nggak ada apa-apa”. Dia hanya menjadi dirinya sendiri, berlagak ikut mengutuk dunia “Betapa menyebalkannya hari ini.” Kemudian dengan caranya sendiri, dia mengajak gue entah kemana secara spontan ke tempat yang terbersit di kepala. Dia selalu sabar nunggu bahwa gue akan cerita. Dan entah kenapa… gue selalu melakukannya. Gue bercerita.
Gue cukup bahagia secara sosial di SMA, namun merana dalam hal akademik. SMA gue termasuk unggulan, jadi cukup banyak pentolan-pentolan berotak yang nongkrong di dalam sana. Sayangnya, gue termasuk yang kasta sudra di sana. Yeah, gue kebanyakan mainnya, haha.
Gue suangat terseok-seok ketika SMA. Nilai gue pernah 5 besar terendah di kelas dan pernah masuk nyaris nggak naik kelas. Haha, keren yah? Padahal ketika SD dan SMP, gue selalu 10 besar di kelas, pas SMP pernah ranking 1 pula, tapi si SMA… guillliingggggg, beneran gue kaya terjerembab ke dunia nyata.
Bayangin, seminggu pertama kelas 1, PR biologi gue adalah “Tulis tangan 100 spesies flora dan fauna dari tingkatan kingdom, divisio, classis sampai spesies. Dikumpulkan 3 hari lagi.” Sementara itu, seminggu pertama biologi kelas 2, “Hapalkan semua epitel lalu maju ke depan, dan sebutkan fungsi, letak dan bentuk semuanya dalam 3 menit di depan kelas.” Belum lagi kalo ujian… 25 menit esai dengan soal yang beranak-pinak.
Nilai 1, 2, 3… itu mah udah biasa. Nilai 7… itu luar biasa. Nilai 9… itu mukjizat. Nilai 10… itu dewwaa!!!! u_u
Tetangga gue yang beda sekolah sampai agak merendahkan gue, “Rapor lo ada merahnya??” (padahal pas sebelumnya, NEM gue selalu sukses di atas dia terus). Jyyiihhhhh… sekolah gih di SMA gue!!!
SMA gue emang sadis. Kita susah banget mendongkrak nilai untuk di rapor. Gue beberapa kali berpikir, “Maunya apa sih nih? Bukannya kalo didongkrak malah bagus untuk sekolah? Jadi bling-bling dan mudah untuk memperoleh PMDK?” Ternyata SMA gue nggak semurahan itu, kita tetap harus melewati kawah candradimuka untuk lulus. Jangan heran rapor kita nggak terlalu bling-bling jika dibandingkan dengan SMA lain. Dengan demikian, sulit juga memperoleh PMDK dari 5 universitas ternama Indonesia, paling banter di luar Jawa.
Hei, jangan sampai lo mikir semua PMDK negeri itu pintar. Bisa jadi itu cuma gara-gara SMAnya murah hati memberikan nilai. Jyah, gue aja dengan mudah bisa mengalahkan dua anak jebolan PMDK IPB yang pindah ke jurusan gue, sementara mereka terseok2 dengan nilai. Anak PMDK lain juga dikalahkan temen-temen gue yang cumlaude di jurusannya.
Banyak yang pemenang olimpiade Fisika, Astronomi, atau Kimia dari SMA gue malah pernah dapet merah di rapornya. See??
Tapi gue udah bisa leha-leha pas kuliah. Gue belajar bisa santai, tapi IP di atas 3,5. Yang lain agak2 keki ketika gue bilang “belum belajar”, tapi nilainya bisa A. Topik skripsinya bisa nyeleneh, tapi bisa A. Gue bahaaagggiiiaaaaa.
Jadi, anak-anak… rapor SMA boleh jadi kurang bling-bling. Tapi, lihatlah medan tempur ketika kuliah. We’re high school survivers!!!
Temanku orang yang baik, kami bertemu ketika pertama terbalut putih abu-abu. Ia suka berkelakar, “Mari kita keluar dari sekolah terkutuk ini,” sementara aku mengamini. Ia bercerita tentang kekasihnya, “Kita sudah dua tahun lamanya.” Tanjakan dan tukikan dalam perjalanan bertahun kemudian, hingga aku berpikir mereka pasti untuk selamanya.
Temanku orang yang baik, namun hari ini aku melihat kepedihan di matanya. Mulutnya bercerita dan gesturnya berkata aku sudah baik-baik saja. Namun, matanya menguarkan jutaan duka lama. Ia bercerita tentang mantan kekasihnya, yang bersama delapan tahun lamanya. “Saat itulah nggak tahan lagi,” ia berkata, “gue nangis, dia memohon di kaki gue. Tiga kali! Enough is enough and fuck it- I even had nothing to lose.”
Temanku orang yang baik, ia menangis. Aku memeluknya, berharap mampu memberikan semua kenyamanan yang kupunya. Segalanya telah menjadi masa lalu, aku tahu ia akan baik-baik saja.
Temanku orang yang baik, ia bercerita tentang kesabaran. Juga bercerita tentang keputusan. Tentang kejatuhan. Kemudian tentang menemukan. Ia memulai cerita tentang cintanya yang baru, “Kita sudah tiga tahun lamanya yang dimulai waktu gue masih terluka.” Ia bercerita tentang tanjakan dan tukikan. Ia bercerita tentang kesabaran kekasihnya.
Temanku orang yang baik, akhirnya ia bercerita tentang pernikahan. Lelaki ini orang yang baik, aku mengenalnya. Ah, kau pasti bisa menebak endingnya.
Saya hanya mencantumkan beberapa saja dengan asumsi inilah lagu-lagu yang paling absurd yang kami nyanyikan malam ini di Happy Puppy.
1. Nobody - wondergirl
Ceritanya kita sok-sok ikut korean wave, tapi ternyata sama sekali fail karena memang nggak ada yang suka (apalagi hapal liriknya). Alhasil lirik koreanya cuma bisa dilantunkan, “Nananana naananaa.. ngee ‘eee ngeee ‘ee… nananaaanananaaa,” dan langsung refrain, “I want nobody nobody but you… [clap clap] I want nobody nobody but you…”, then “Nananana naananaa.. ngee ‘eee ngeee ‘ee… nananaaanananaaa,” lagi, then ”I want nobody nobody but you… [clap clap] I want nobody nobody but you…”. EPIC fail. Gue bahkan nggak bisa ikutan na-na-na nge-ee-nge’e dan cuma bisa ngakak guling-guling ngeliatin dia na-na-na nge-ee-nge’e di sana.
2. Maria - Ricky Martin
Gue sastra Belanda, temen gue sastra Inggris, ada juga sastra Prancis, akuntansi dan teknik informatika, dan mendadak juga semua harus bisa bahasa Spanyol untuk lagu ini dan untuk malam ini. Beatnya enak untuk dinyanyikan dan enak untuk goyang, jadi salah pronounciation (dan apalagi salah lirik) pasti dimaafkan yang maha kuasa. Jadi , “Un dos tres! Umpasikopalante Maria, un dos tres, umpasikopatra…”
3. Hamil duluan - lupa siapa yang nyanyi
WTH banged teman gue tahu lagu dangdut ini. Gue nggak berhenti ngakak ngelihat dia dangdutan di sana dengan lihainya, lengkap dengan panggilan alaynya yang melengking campuran suara Nicky Astria, “Hayo goyang yang di sanaaa!” (Sumpah mirip banget.) Aduh, aduh, aduh, anak ajaib… kerja di Bakrie groep nggak kehilangan sisi kealayannya, huahaha. I’m impressed!
4. Goodbye - Air Supply
Oke, lagu ini memang sama sekali nggak absurd. Gue cuma mau share sedikit bagaimana tingkat penghayatan bisa kami setel sampai mentok saat menyanyikan lagu pelan dan balad ini. Huaish… ternyata lagi banyak yang galau malam ini, hahahahahaaaa. Great song indeed.
5. Single ladies - Beyonce
Wuehheell… lagunya memang sama sekali nggak absurd, yang absurd itu justru yang nyanyi. Kita semua tahu lagunya, masalahnya kita benar-benar belum siap dan blank pas ngelihat liriknya. “[All the single ladies] All the single ladies. [All the single ladies] All the single ladies. [All the single ladies] All the single ladies. [All the single ladies] All the single ladies. [Now put your hands up] All sing— eeehhh… udah mulai ya? [Up in the club] Ini gimana?? [Just broke up, Doing my own little thing] Gimana yang ini??? [You decided to dip, And now you wanna trip] Gue nggak tahu, lo aja niihhh!!! [Cuz another brother noticed me] Udah ‘NEXT’ aja, ‘NEEEEXXT’!!!”
—-
Sisanya kami bernyanyi dengan sepenuh hati kok. Sungguh.