Gue mengenal orang-orang ini. Si Virgo dan Aries.
Si gadis Virgo ini… happy-go-lucky-girl. Dia pintar, banyak tersenyum, banyak tertawa, dan penyemangat kawan-kawannya. Lo takkan pernah melihat dia murung sejarang lo melihatnya menunduk sedih. Gadis ini selalu bersemangat, satu orang paling ‘cerah’ yang pernah gue temui. Kita berteman, diberi kehormatan untuk mengenalnya. Dan untuk satu kehormatan yang lain, gue menjadi salah satu dari sedikit orang yang mengetahui satu bagian lain hidupnya. Yeah, kehidupannya yang lain— ketika dia ingin mengutuk dunia. Ketika dia ingin berhenti untuk peduli. Dan ketika dia berharap boleh membenci seseorang sedarah yang tidak boleh dibencinya. Ketika rasanya dia telah muak, ingin membuat hidup baru tanpa semua orang. Tapi tentu saja… sudah gue bilang, Virgo ini happy-go-lucky-girl. Dia seorang penyemangat. Untuk sesaat si Virgo tahu bagaimana bersedih, tapi kemudian bangkit dan cerah lagi.
Then gadis Aries ini… sweetheart. Gemar ketawa, senyumnya lebar, suaranya… ah, pandai menyanyi. Suatu hari gadis ini dilema dengan cinta segitiganya, bahwa si pemuda menyukainya sementara masih jadian dengan pacarnya. Aries ini sedih dan badmood sepanjang hari seolah dunia sedang menghukumnya. Maka seperti hari ini dan lainnya, mereka berjalan bersama dengan yang lain. Dan memberitahu bahwa ada banyak cowok yang bisa dicari dalam serangkaian cinta monyetnya. Kemudian si Virgo seperti biasa menyemangatkan kembali, membuat tertawa, lalu mencerahkannya hari mereka.
Kemudian dalam satu waktu di hari itu yang membuat hati Virgo tersentak. Yang membuat gue bertanya. Dan membuat gue meringis entah harus apa. Si Aries mengatakan kepada si Virgo, “Enak ya, hidup lo emang nggak pernah ada masalah…” Gue tertawa, karena terasa lucu. Karena terasa menyakitkan… dan terasa ironis.
Dia adalah salah satu dari mereka. Seseorang yang tahu ketika gue sedih dan nelangsa. Tapi tidak mengatakan “Kenapa”—karena dia tahu gue pasti akan bohong en bilang “Nggak ada apa-apa”. Dia hanya menjadi dirinya sendiri, berlagak ikut mengutuk dunia “Betapa menyebalkannya hari ini.” Kemudian dengan caranya sendiri, dia mengajak gue entah kemana secara spontan ke tempat yang terbersit di kepala. Dia selalu sabar nunggu bahwa gue akan cerita. Dan entah kenapa… gue selalu melakukannya. Gue bercerita.
Kenapa hari ini menyebalkan sekali, hm?
1. Hard disc gue terancam RIP. Anjing, itu banyak foto-foto bersejarah!!! Gue mah masa bodo dengan lagu-lagu. Tapi itu foto-foto… foto ga bisa diambil ulang!!! —a *nangis kejer*
2. ERIC SEGAL RIP!!! Inspirasi reppan Blake!!!
Hari itu gue baru pulang dari pusat kebudayaan Belanda Erasmus Huis Kuningan. Gue nunggu patas AC di trotoar, sesekali melihat arloji. Agak lama, yeah… namun itulah yang membuat gue ketemu lelaki ini.
Sosoknya agak ndeso, well- memang benar karena dia memang mengatakan demikian. Dia menghampiri gue, bicara dengan logat Jawanya yang kental. Katanya dia baru dari Jawa (lupa tepatnya dari Jawa mana), dan baru datang ke Jakarta bermodal sebuah alamat sodaranya. Dia harus mengunjungi sodaranya sakit keras. Tapi ketika mengunjunginya, ternyata sodaranya itu sudah pindah ke daerah Bekasi (alamatnya dijelaskan di atas secarik kertas). Masalahnya, katanya dia nggak punya duit sama sekali untuk ke Bekasi, hingga ia pun jalan kaki ke tempat tersebut (dari mana gitu, lupa—kaenya Glodok) ke Kuningan, dan dia juga buta Jakarta. Dia menjelaskan semuanya dalam bahasa Jawa yang intinya meminta bantuan gue untuk mengantarnya ke Bekasi.
Gue mengerti apa yang dia bilang tapi gue nggak bisa jawab dengan bahasa yang sama cos gue penutur Jawa pasif. Tapi pas gue respon dengan Bahasa Indonesia, dia bilang nggak mengerti sama sekali. Weteha… dia nggak ngerti bahasa Bahasa Indonesia? Entah gue harus percaya dengan orang ini atau nggak.
Well, ini Jakarta, tempat semua kejahatan itu mungkin. Gue bisa curiga dengan orang ini karena dia mengatakan dia orang Jawa, namun dia nggak mengerti bahasa Indonesia sama sekali. Itu aneh. Sangat. Gue belajar Sosiokultur di kuliah, men. Pulau Jawa itu udah padat penduduk. Seterpencilnya daerah-daerah di Jawa, mereka pasti mengerti bahasa Indonesia, walau mungkin secara pasif (kecuali suku Baduy Dalam, meibih… u_u). Orang suku Baduy Luar aja masih ngerti gue ngemeng apa. Tapi orang ini buta bilang buta sama sekali dengan Bahasa Indonesia.
Gue akhirnya minta maaf, bilang nggak bisa bantu. Tentu saja dengan hati nggak enak karena gue bohong—SEBENERNYA GUE BISA BANTU. Ya paling nggak ngasih Rp 10.000. Tapi gue masih nggak tahu laki-laki ini bohong atau nggak. Kalo dia bohong berarti gue aman, sementara kalo dia jujur berarti guenya yang jadi cold-hearted bitch. Akhirnya gue pilih yang pertama.
Well… kemudian Patas ACnya datang. Gue undur diri untuk naek bis. Then sepanjang perjalanan gue masih kepikiran dan nggak bisa lepas dengan orang itu. Gue bertanya-tanya dalam hati… gue antisipatif atau… tidak punya hati? Waktu telah mengubah Jakarta banyak sekali.
Yeah, ketika kini semua simpati berganti antisipasi… fuck Jakarta.
Sebenernya ini repost dari blog gue, tapi gue nggak bisa menahan diri untuk post di Tumblr, wkwk. Perjuangan ngerjain skripsi euy. Beberapa tahun yang lalu. Pertama masuk kuliah. Yang gue tahu waktu itu adalah kuliah sama dengan belajar dan nulis skripsi. Nulis skripsi itu berarti mimpi buruk. Semua kakak gue yang nulis skripsi, nggak ada yang lulus tepat waktu. Masalahnya, gue sendiri nggak mau telat lulus. Then gue nanya-nanya senior: “Kalo mau lulus wajib ambil skripsi?”. Then, mereka berkata: “Di FIB ada dua jalur: skripsi dan nonskrip.” So, I made up my mind: gue nggak mau ambil skripsi. Amit-amit deh…
Entah bagaimana, gue kemaren teringat ketika sepupu gue meninggal. Udah agak lama siy (tahun 2009), cuma gue belum pernah nulis ini di manapun. Gue inget banged saat itu, cos gue jarang melihat kematian. Nggak pernah secara langsung. Dan saat itu bener-bener saat terdekat gue melihat seseorang merengang nyawa. Begitu dekat dengan kematian, dan tinggal menghitung waktu.
Dia dirawat di rumah sakit, dengan gangguan komplikasi. Waktu itu bonyok maksa gue untuk jenguk bareng-bareng ke rumah sakit, tapi gue males. Waktu itu gue lagi ngapain yeah…? Humm… gue lupa. Intinya ogah banget keluar dari zona nyaman—duduk-duduk atau lagi nonton atau lagi maen ps atau lagi baca. Then setelah dibujuk-bujuk, akhirnya gue dateng juga (dengan muka terpaksa).
Kemudian sampai di sana… ternyata pas ketika dia udah dimasikin ke ICU. Lo tau apa yang membuat gue mencelos? Dia udah kritis. Napas terlihat tersengal-sengal, dan dia sedang koma. Si ibu membacakan kalimat syahadat di telinganya, si ayah duduk di samping ranjang. Bibirnya berkomat-kamit, tangannya memegang tasbih.
Sepupu gue yang lain sibuk bolak-balik keluar kamar, ngecek keadaan, jawab-dan-telepon kerabat. Gue cuma berdiri, menyandar di tembok. Nggak melihat di atas ranjang, hanya mendengar bunyi-bunyi menakutkan: bunyi pip-pip detektor detak jantung (whatever the hell its name), bisik kalimat-kalimat syahadat, then sengal napas sepupu gue. I was thinking… Ini yang akan dilakukan sejuta orang tua di seluruh dunia. Bayangkan ekspresi orang tua yang sedang menyaksikan anak mereka sedang merengang nyawa…
Then suara detektor jantungnya semakin cepat. That’s the sign. Si suster menyuruh pakde, bude, dan semua untuk keluar kamar. Si ibu berjalan perlahan, dipapah anaknya. Si ayah berjalan, menundukkan kepala. Ekspresi wajah: lifeless.
Beberapa saat kemudian, dokter datang. Just like movie’s, but this was real as heaven and hell… he said she’s gone.
Taurus girl. Umur gue udah kepala dua dan gue masih berpendapat ultah ketujuhbelas adalah ultah yang termanis. Sekadar memberitahu, jangan pikir ultah ke-17 gue itu penuh dengan perayaan heboh. Sebaliknya men… ultah gue malah jauh dari birthday cake, lagu-lagu ultah yang heboh, tebar konfeti, makan-makan, dst. Kalau mau tau, sebenarnya saat itu gue malah baru keluar dari rumah sakit. Sementara itu, bokap gue baru terserang stroke. What a day, huh?
Seminggu sebelum hari H, gue masuk rumah sakit gara-gara tipus. Sebenarnya gue itu tipe yang tangguh. Gue bisa petantang-petenteng jauh dari penyakit dan bisa beraktifitas seharian tanpa tidur. Gue bisa kena tipus itu pasti bukan karena kecapekan (gue tahan capek men), melainkan karena kombinasi kecapekan yang luar biasa dan makanan yang kurang higienis. Kalau udah kombinasi itu, ya begitulah… yay baby, kena tipus.
Oke, masalah tipesnya sih biasa—ck, penyakit sejuta umat. Saat itu adalah masa-masa terendah keluarga gue. Maksudnya begini, gue masih SMA dan ketiga kakak gue kuliah. Beban finansial sedang berada dalam masa yang terberat. Then lagi ketika itu gue masuk rumah sakit. So, ketar-ketirlah ortu gue. Gue juga cewek sendiri di keluarga, bertambah ketar-ketirlah bokap gue. Well then… beliau terkena stroke. Gara-gara gue, dia kena stroke. I was scared. And felt guilty. Yeah, begitulah. Gue di rumah sakit, bokap gue stroke di rumah.
Seminggu itu ajojing gilleee…
Rumah sakit deket rumah gue itu rumah sakit Islam yang punya peraturan cowok nggak boleh masuk kalau udah lewat jam besuk. Alhasil yang bisa nungguin gue cuma nyokap. Kakak gue cowok semua, jadinya mereka nggak bisa nungguin gue di rumah sakit. Sementara itu perhatian nyokap gue juga kebagi dua antara gue dengan bokap yang lagi stroke. Jadi selama beberapa hari, gue tidur ditemani pembantu. Dan bahkan… sehari-dua hari tidur sendiri di sana.
Seminggu kemudian, gue keluar dari rumah sakit. Hari itu juga, gue ultah. Ulang tahun ketujuhbelas, euy. Sumpah deh, jauh banged dari perayaan. Hari itu sueppiiii. Yang dateng cuma ibu-ibu dan bapak-bapak (yang mau jenguk bokap gue). Muka-muka orang tua semua deh pokoknya. Yah, gue nggak komplain juga sih—cos gue juga bukan orang yang gila perhatian. Semua temen gue pasti sibuk dan masih belajar di sekolah. Pagi pertama pulang ke rumah itu gue cuma modal hepi udah bisa pulang. Bokap sehat (walau masih belum bisa menggerakkan tangan kanan dan kaki kiri secara normal). Gue juga udah leha-leha di rumah. Semuanya udah beres. Tinggal menghitung hari di rumah sampai ketika gue kembali ke sekolah lagi nanti.
Well, yeah begitulah yang gue pikirkan semula. Namun ternyata pas sorenya berkata lain. Di depan rumah gue…
Sayup-sayup ada yang memanggil-manggil.
Just it.
Gue langsung tahu ada siapa di depan sana. Yeah, teman-teman gue segambreng pada datang. Mereka di depan pagar dan langsung nyanyi heboh ‘Happy Birthday’ ketika gue muncul di depan pintu. Guenya yang duduk di teras cengar-cengir aja nungguin premis terakhir ‘Happy Birthday’ dinyanyikan. Mereka bawa cake dan kado. Beberapa kado hasil patungan. Hasil patungan! Aw, it’s cute and sweet actually. Mendadak, saat itu pesta kecil-kecilan mendadak digelar di sana.
Gue turut bahagia bagi kalian yang merayakannya dengan layak dan terencana. Masing-masing punya momennya dengan caranya sendiri. Namun hari itu walau sederhana, sangat gue syukuri. Gue keluar rumah sakit. Bokap gue selamat dari stroke. Dan pesta sweet seventeen sederhana.
Priceless. Memorable.
Us-us, temen kantor (dengan bahasa diedit biar ga terlalu gaol u_u)
Satu Kesaksian Pribadi
Oleh Daoed Joesoef
Pembentukan Daerah Istimewa Yogyakarta berdasarkan UU No 3 Tahun 1950, yang meliputi daerah Kesultanan Yogyakarta dan Paku Alaman, bukan atas permintaan Sultan Hamengku Buwono IX maupun warga. Sultan dan warganya mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan RI tanpa pamrih.
Sultan Hamengku Buwono (HB) IX adalah sultan pertama yang mendukung proklamasi kemerdekaan. Kesultanan yang dipimpin merupakan bagian konstitutif NKRI. Hal serupa juga dimaklumatkan Sultan Siak Sri Indrapura (Sumatera Tengah) beberapa hari kemudian.
Kebajikan Sultan Yogya juga ditunjukkan dengan terus melibatkan diri dalam perjuangan menegakkan kedaulatan RI. Di saat-saat krusial, tanpa diminta, Sultan menunjukkan sikap tidak defaitis, misalnya, saat Belanda melakukan aksi militer pertama (Juli-Agustus 47), kedua (19 Desember 48), dan saat PKI memberontak dari Madiun (18 September 48).
Revolusi fisik
Selama revolusi fisik (1946-1949) saya ber-SMA di Yogya, menggabungkan diri pada Tentara Pelajar (TP) Bat. 300. Dalam aksi militer Belanda pertama, pelajar-anggota TP menuju garis depan. Saat berangkat, Sultan—selaku Gubernur Militer—melepas. Sebelumnya, Sultan menerima alamat orangtua anggota TP dari luar Jawa untuk disimpan. Sesudah cease-fire saya kembali ke Yogya, menemui Sultan untuk mengambil alamat orangtua saya, dan alamat orangtua dua teman yang gugur. Saya katakan kepada Sultan, saya sendiri akan mengabarkan berita duka itu bila hubungan pos Jawa-Sumatera sudah pulih karena kami dari Medan.
Dalam aksi militer kedua, Belanda menduduki Yogya. Bung Karno, Hatta, Sjahrir, dan beberapa petinggi lain ditawan, tetapi Sultan tidak. Ketika pimpinan militer Belanda ingin menghadap ke keraton, Sultan menolak. Kalau Belanda nekat masuk keraton, mereka harus melangkahi mayat Sultan lebih dulu. Intelijen Belanda tahu, keraton menjadi tempat bertemu dan berlindung gerilyawan. Dari keraton, Sultan memantau situasi melalui radio.
Setelah tiga kali ditangkap dan ditahan Belanda, saya berhasil lari dan meninggalkan Yogya, apalagi pondokan saya digeledah. Dengan beberapa ”pelajar seberang”, saya menempuh long march ke Jakarta. Yogya tidak lagi memungkinkan perantau mencari nafkah guna membiayai hidup dan sekolah. Sepanjang perjalanan Yogya-Salatiga, penduduk di desa-desa selalu menanyakan keadaan Sultan. Melihat kenyataan ini, kami yakin, seandainya Sultan menyerah dan menerima kedatangan Belanda, saat itu riwayat RI pasti tamat. Minimal, negara tak lagi merdeka, beralih menjadi dominion atau negara boneka.
Selama revolusi fisik, Yogyakarta menjadi ibu kota RI. Saat itu Yogyakarta dipenuhi pengungsi dari berbagai penjuru, pejabat, pegawai sipil, dan militer, laskar perjuangan, warga biasa dan pelajar yang jumlahnya mungkin sama dengan warga asli Yogyakarta. Meski demikian wong Yogya tidak pernah mengeluh jika harus berbagi makanan, fasilitas umum dan ruang, bersedia sama-sama menderita, meneladani sikap rajanya yang tanpa pamrih menawarkan bagian depan keraton, termasuk siti hinggil untuk pendidikan. Pagi untuk SMA, sore hari untuk kuliah mahasiswa Universitas Gadjah Mada.
Manusia idealis
Tanggal 1 Agustus 1973, sepulang dari Paris untuk studi selama sembilan tahun, Bung Hatta mengundang saya ke rumahnya. Pada malam itu, di ruang tamu sudah ada Sultan, yang saat itu menjabat wakil presiden.
Saat itu Bung Hatta menanyai visi saya tentang pendidikan nasional, bukan masalah ekonomi yang juga saya tekuni selama belajar di Sorbonne, Perancis. Pertanyaan itu tak sulit dijawab karena selama studi saya juga menyiapkan konsep pembangunan pendidikan dan kebudayaan serta pembangunan pertahanan dan keamanan nasional. Sultan juga menanyakan konsep pengembangan idealisme, membentuk manusia idealis. Menurut Sultan, kita memerlukan banyak calon pemimpin yang idealis, justru karena Tanah Air kita kaya raya.
Ternyata selain nasionalis, Sultan juga arif, bijak, dan tegas. Ketika dinobatkan sebagai sultan di zaman kolonial (1940), Sultan mengatakan dalam pidato, ”Al ben ik Westers opgevoed, ik ben en blijf Javaan” (meski berpendidikan Barat, saya adalah orang Jawa dan akan tetap Jawa). Saat itu, pernyataan ini dianggap ”revolusioner”.
Sultan juga yang mewakili RI menerima kedaulatan dari Wakil Kerajaan Belanda di Jakarta (Desember 1949). Sultan beberapa kali dipercaya menjabat Menteri Pertahanan setelah penyerahan kedaulatan. Sebagai Menteri Pertahanan Republik Indonesia Serikat (1949-1950)—saat keamanan dan ketertiban amat kacau—Sultan berulang kali pulang balik Jakarta-Yogya, menyetir mobil sendiri, tanpa ajudan atau voorrijder. Dalam salah satu perjalanannya, Sultan pernah memboncengkan perempuan tua yang terseok-seok menggendong dagangannya hingga depan Pasar Beringharjo. Sultan tak mengungkap jati dirinya.
Keistimewaan Yogyakarta
Sesudah Belanda angkat kaki, para pejuang yang selamat sepakat, negara-bangsa memberikan pengakuan yang tulus atas sikap patriotik Sultan dan warga Yogya di masa perjuangan. Pengakuan ini berupa pemberian status keistimewaan bagi daerah Kesultanan Yogyakarta dan Paku Alaman. Keistimewaan DIY memang dikaitkan kedudukan Keraton Yogyakarta dan Puro Pakualaman. Artinya, secara implisit, siapa pun yang menjadi sultan dan paku alam, jabatan gubernur dan wakil gubernur adalah melekat.
Jadi, aneh jika generasi reformis kini justru meragukan kebenaran hakikat pertimbangan para tokoh pejuang 45 dalam memutuskan keistimewaan DIY. Itu tidak hanya kebenaran thok, tetapi kebenaran bernilai sejarah perjuangan, bukan untuk mengukuhkan monarki absolut di Yogya. Meski di bawah raja, pemerintahan daerah ini berjalan demokratis.
Jangan anggap para tokoh tidak tahu soal ketatanegaraan. Mereka tidak kalah terdidik, tidak kurang cerdas dan patriotik daripada para tokoh reformis sekarang. Maka hargailah keputusan mereka. Alih- alih mempertanyakan, sekali lagi tegaskan secara positif keputusan itu. Yang dipertaruhkan bukan hanya martabat Sultan dan Paku Alam dan seluruh warga, tetapi juga intellectual dignity dan political credibility dari pejuang kemerdekaan 45 yang telah memutuskan itu.
Pembentukan DIY bukan hanya masalah hukum dan UU. Ia adalah keputusan bersejarah yang jelas rasionale-nya dalam perjalanan sejarah. Kalaupun pembentukan itu hendak dijadikan masalah hukum/ UU, sebagai produk buatan manusia, ia harus dibuat bersendikan tidak hanya akal, tetapi juga akal budi dan kearifan. Hanya orang yang berbudi yang dapat menghargai budi luhur orang lain.
Daoed Joesoef Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Kabinet Pembangunan III (1978-1983); Alumnus Universite Pluridisciplinaires Pantheon-Sorbonne
Sumber: kompas.com
Dan tulisan lain bisa dilihat di sini.
Gue memang bukan kelahiran Jogja asli, tapi gue udah sering bolak-balik Jogja karena ayah-ibu asli Jogja. Dan lagi gue bukan pecinta politik, tapi urusan yang mencakup Jogja saat ini membuat gue tersentil juga. “Katanya”, sistem pengangkatan Gubernur dan Wakil Gubernur akan dilakukan dengan pemilihan dan penetapan. Hal itu akan membuat Sultan dan Paku Alam tidak bisa otomatis menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur.
I mean, wth. Warga Jogja telah dipimpin Sultan selama ratusan tahun dan selama ini baik-baik saja. Bahkan, Jogja jauh lebih aman dan tenang. Memang, penetapan tersebut tidak sesuai dengan UU bahwa Gub/Wagub hanya menjabat 2 masa jabatan, tapi hal itu juga telah dibahas di segala bentuk perjanjian penggabungan Jogja saat itu. Jika perjanjian tersebut tidak diindahkan, berhak dong Jogja memisahkan diri?
Jangan menggembar-gemborkan pemilihan akan jauh lebih baik karena demokratis. Apa benar akan lebih baik jika dengan pemilihan? Nyatanya daerah lain dengan sistem seperti itu malah lebih kacau. Rusuh saat kampanye, korupsi lebih tinggi, sogok menyogok pemilih, kecurangan pemilihan. Jika demokratisnya seperti itu, puhlease… nggak deh. Jadi, kenapa yang sudah baik (dan warganya sudah tentram dengan yang ada) malah harus diubah?