Danish the manace, keponakan gue yang berumur 2,5 tahun, suka banged nonton gue atau bokapnya ato omnya main PS. Suatu hari anak itu menyuruh gue nyalain PS dan main gem mobil. Dia nggak bisa main, en emang jelas lah anak seumur itu belum ngerti mainan kayak gitu. Maksudnya PSnya dinyalain, then dia cuma pegang controller yang pemain kedua, sementara controller kesatu tetap dipegang gue. Teknisnya biar dia sok-sok main gitu, padahal sebenernya gue yang main.
Saat itu gue nyalain Need For Speed Carbon, gem balapan. Danish duduk di bangkuan gue (sambil sok-sok megang controller), sementara gue sibuk main. Gue kalo udah maen emang konsen di layar. Tangan repot memencet tuas-tuas controller sekuat tenaga… ngebut… ngegas… ngerem… kesalip… Mata konsen ke layar… beberapa kali teriak kalo nabrak… Then akhirnya tiba saatnya ketika tanpa sadar sebuah spesies canis lupus familiaris terlontar dari bibir gue…
“Anjing…”
Uh huh. Dan sayangnya Danish tuh pinter. Makanya nggak heran ketika dia jadi bingung, “Mana anjingnya?”
Wakakakakak…
Gue ngakak. Nyokap gue glare ke gue, ‘Kamu sih ngomong begitu.’ Buru-buru gue bilang ke anak itu, “Itu tadi guguknya lewat. Untung aja nggak ketabrak.” Tapi dia terus nanya, mana guguknya. Aduh bingung deh gue jelasinnya. Terus aja gue bilang guguknya udah pergi.
Malamnya, kakak gue main PS juga. Nyalain Need For Speed Carbon juga. Danish nanya, “Tadi ada guguk. Cariin guguknya dong, Om.” Alhasil kakak gue bingung apa maksud anak ini.
Gue pasang muka polos aja dehh…


Perkenalkan: Danish (keponakan gue). Umur 2,5 tahun. Maklum agak burem, cos piku diambil malam hari tanpa flash dan di dalam ruangan pula (gue nambahin sedikit efek2 pula biar tambah burem u_u). Sebenernya— bersyukur juga rendernya udah burem begini, wakakakak…
Entah bagaimana, gue kemaren teringat ketika sepupu gue meninggal. Udah agak lama siy (tahun 2009), cuma gue belum pernah nulis ini di manapun. Gue inget banged saat itu, cos gue jarang melihat kematian. Nggak pernah secara langsung. Dan saat itu bener-bener saat terdekat gue melihat seseorang merengang nyawa. Begitu dekat dengan kematian, dan tinggal menghitung waktu.
Dia dirawat di rumah sakit, dengan gangguan komplikasi. Waktu itu bonyok maksa gue untuk jenguk bareng-bareng ke rumah sakit, tapi gue males. Waktu itu gue lagi ngapain yeah…? Humm… gue lupa. Intinya ogah banget keluar dari zona nyaman—duduk-duduk atau lagi nonton atau lagi maen ps atau lagi baca. Then setelah dibujuk-bujuk, akhirnya gue dateng juga (dengan muka terpaksa).
Kemudian sampai di sana… ternyata pas ketika dia udah dimasikin ke ICU. Lo tau apa yang membuat gue mencelos? Dia udah kritis. Napas terlihat tersengal-sengal, dan dia sedang koma. Si ibu membacakan kalimat syahadat di telinganya, si ayah duduk di samping ranjang. Bibirnya berkomat-kamit, tangannya memegang tasbih.
Sepupu gue yang lain sibuk bolak-balik keluar kamar, ngecek keadaan, jawab-dan-telepon kerabat. Gue cuma berdiri, menyandar di tembok. Nggak melihat di atas ranjang, hanya mendengar bunyi-bunyi menakutkan: bunyi pip-pip detektor detak jantung (whatever the hell its name), bisik kalimat-kalimat syahadat, then sengal napas sepupu gue. I was thinking… Ini yang akan dilakukan sejuta orang tua di seluruh dunia. Bayangkan ekspresi orang tua yang sedang menyaksikan anak mereka sedang merengang nyawa…
Then suara detektor jantungnya semakin cepat. That’s the sign. Si suster menyuruh pakde, bude, dan semua untuk keluar kamar. Si ibu berjalan perlahan, dipapah anaknya. Si ayah berjalan, menundukkan kepala. Ekspresi wajah: lifeless.
Beberapa saat kemudian, dokter datang. Just like movie’s, but this was real as heaven and hell… he said she’s gone.
Sepasang kaca itu kini tak bertuan. Si lelaki tua telah pergi. Tak apa, Dia yang berkuasa di atas sana pasti lebih menyayanginya dari siapa pun juga.