Gue diajak rp oleh Ncepi di sebuah tret. Intinya tret itu membuat chara kita bisa act seperti orang lain. Nah, bayangkan Blake jadi kompeni Belanda… =))
—-
Nama : Meneer Bleek de Baas (Blake si Bos u_u)
Usia : 34 tahun
Status : Jendral VOC
“Jij, STOMME MAN!!!” perintahnya kepada ajudan dengan aksen Holland yang kental. “Rapi-rapi itu kita punya budak, biar calon pembeli kita berminat!”
“Oke, Meneer!”
Layar kapal kayunya telah tergulung sempurna ketika merapat di dermaga. Ia melangkah turun dengan pakaian kejayaannya, menatap dunia baru yang baru dilihatnya. Ia muncul dari negeri kapitalis dengan minat imperialis yang menyempil di Eropa. Sebuah negara menyedihkan yang setengah isinya berjibaku melawan air. Ja, kering segan, tenggelam tak mau. Tanah tidak ada yang bisa dijadikan aset, sumber daya pas-pasan. Kini berbekal devide et impera, benteng stelsel, dan semua strategi lainnya, mereka mencari koloni-koloni dan daerah jajahan untuk mengeruk sumber daya negara lain.
Nou, ia datang ke negara ini untuk berbisnis. Di bawah bendera VOC—Vereenigde Oost indische Compagnie, ia menjual budak-budak pekerja rodi dari tanah Jawa. Persaingannya dengan komisi dagang Inggris EIC memang bikin pusing. Agak merepotkan dan membutuhkan kejelian usaha. Ia harus membuka pasar potensial yang lebih luas lagi. Nah, bisnis outsourcing ini TKI ini sungguh menggiurkan. Tanah Jawa tanah yang subur. Tanam satu, tumbuh seribu. Kawin satu, lahir seribu. Negara itu banyak sumber daya untuk dijadikan aset bangsa. Pekerja rodinya melimpah. Bahkan Suriname, negara di Amerika Selatan sana, telah menjadi pelanggan tetapnya. Kini separuh negara itu menutur bahasa Jawa dan ngefans lagu keroncong. Goed, he?
Nah, Bleek de Baas datang dengan darah bisnisnya menawarkan harga miring. VOC memberikan paket hemat bagi yang memesan lebih awal. Ada yang paket platinum lelaki berotot campuran Jawa-Arab, ada paket gold laki-perempuan Jawa dengan tingkat kesuburan tinggi mudah dikembangbiakkan, ada paket silver, paket hemat, paket kawan, paket lawan, paket satu kodi gratis 1, dan paket murah lainnya. Bahkan ia menjual untuk eceran. Nah, jika Ibu Suri ini menginginkan anak, kenapa tidak berbisnis saja dengannya.
Atau bahkan Ibu Suri bisa memilih dirinya sebagai anak (walau mereka tampaknya hampir seusia). Ia belum cinta dengan negeri ini untuk menjadikannya ibu pertiwi, tapi itu bisa diatur. Lagipula ini bukan bukan masalah cinta, ini hanya bisnis semata. Jika tanda tangan cek dan obligasi dengan nilai nominal tertentu telah disetujui, cinta bisa bicara.
Bleek berjalan dengan pakaian kerja kajayaannya. Langkah melangkah penuh percaya diri dengan gaya aristokrat kebaratan sana.
“Goede avond, Mevrouw… Ik datang dari ik punya negara bernama Nederland, menawarkan bisnis dengan jij,” katanya. Dagu terangkat angkuh, tangan melintir kumisnya. Tangan yang lain dipinggang, sementara mata menatap setengah hati dan salah satu kaki kejang-kejang dengan cool-nya. “Apa yang jij butuhkan? Anak? Bagaimana jika jij beli saja dari ik, hm? Hanya dengan 6.000 Gulden saja, jij punya orang bisa dijadikan anak en babu sekaligus. Nou…wat vindt jij?”
—-
[OoC : Translate = Well, bagaimana menurutmu?]
Ini puisi yang ditulis Blake waktu dia kalah taruhan dengan Agrippina. Suatu hari mereka bertaruh: jika Agy berani menorehkan ‘menjadi istri penguasa’ dalam konsultasi karirnya, Blake akan membuatkannya sebuah esai Astronomi. Intinya Blake kalah dalam taruhan, esai Astronomi di depan mata. Namun ternyata Agy mengubah taruhannya, menyuruhnya membuatkan puisi (karena kelas Astronomi juga nggak dibuka term itu). Seriously… Blake membuat puisi?? Wakakakakak… Tapi itu justru membuat gue penasaran, gimana caranya membuat seorang Blake membuat puisi tanpa harus out-of-character. So, beginilah jadinya… (Klik link INI untuk ke tretnya)
Apple is sweet, so is the lips
The caressing palms like a gentle dawn
A place to stand, those warm hands
The graces the sweets, all ‘er mine
Yeah, it defines—she’s the day
like knowing her in a simplest way
Sumpah ya… gue nggak tahu kenapa bisa cinta banget ma orang ini. Tapi sejak gue baca novelnya yang Doctors, gue langsung cinta. So, intinya… perkenalkan saja, namanya Erich Segal. Seorang profesor Sastra Latin dan Yunani di Harvard University. Dia tidak seterkenal Nicolas Sparks. Atau Dan Brown. Atau nama-nama beken Nobokov, Tolstoy… you name it lah. Tapi gue cinta. Sangat cinta.
Gue kenal dia semenjak baca Doctors. Citanya tentang dua anak cewek dan cowok yang tetanggaan dari kecil. Mereka berteman baik dan satu sekolah dari kecil hingga mereka kuliah di Med Class Harvard. Yang menjadi inti permasalahan mereka itu adalah problematika dunia kedokteran. Dari masalah pribadi, hingga masalah euthanasia. Menambah wawasan, mata gue terbuka lebar. I love it.
Then gue semakin cinta setelah baca Love Story. Awalnya gue baca ini, cenderung menyepelekan. Maksud gue… weteha— Love Story?? Judulnya lame dan jumlah halamannya tuippiiisss banget. Ceritanya pun standar, si kaya suka ma si miskin dan ortunya agak kurang setuju. Tapi setelah gue baca… *straight face cengo* Gue cinta. Ceritanya sangat sederhana. Sangat. Sederhana. Justru itulah yang membuat gue cinta… kesederhanaannya itu sangat realistis. Ibaratnya gini… lo berada di comfort zone sepanjang waktu, lo seneng pada keadaan itu. Then ketika masalah dateng, then itu beneran menjadi ujian yang berat banget. Dan nampol. Bacalah…
Setelah itu gue baca Oliver’s Story. Intinya adalah lanjutan dari Love Story. Gue nggak mungkin cerita cos spoiler abis. Gue cinta endingnya. Aish…
Gue juga baca Prizes (alias Nobel). Intinya ini dilihat dari perspektif tiga orang yang masing-masing merupakan ilmuwan. Hampir mirip dengan Doctors, ini mengupas kisah tentang ilmuwan hingga bisa meraih Nobel. Dari perjuangan, hingga trik-trik plagiatisme. Sangat membuka wawasan.
Then ada Man, Woman, and A Child. Ceritanya tentang seorang pria yang kehidupannya sempurna. Istri yang setia, pekerjaannya bagus, anak-anaknya baik-baik, keluarganya bahagia. Then suatu hari muncul seorang anak kecil diberitahu sebagai anak si lelaki. Nah, terkuaklah kisah one night stand beberapa tahun yang lalu yang berujung lahirlah anak tersebut. Kebahagiaan keluarga itu mengalami ujian.
Only Love itu tentang kisah seorang lelaki yang sukses dalam dunia kedokteran. Karirnya oke dah. Then suatu hari seorang lelaki kaya datang meminta bantuan untuk mengobati istrinya yang terkena tumor otak. Masalahnya… sang istri adalah cinta lamanya dulu. Nah terujilah kisah cintanya.
Nah yang ini judulnya The Class. Ini sangat Harvard sekali, cos menceritakan tentang kehidupan anak-anak dari masuk kuliah sampe reunian mereka yang ke-25 tahun. Satu line yang nampol dari novel ini: “Ia tak tahu caranya menjadi bahagia. Itulah satu-satunya yang tak mampu diajarkan mereka di Harvard.” Intinya gue jadi mupeng deh sekolah di sana, wakakakaka…
Intinya dia itu inspirasi reppan Blakey. Ada rasa-rasa kasual dan memiliki klimaks di bagian akhir. Oh, dan sangat realistis. Dia bisa mendeskripsikan keluarbiasaan dengan cara yang kasual tanpa kesan lebay. Sangat kasual deh pokoknya. Favorit gue itu The Class, Doctors, Love Story, dan Oliver’s Story.
Salute to Erich Segal. RIP : 2010.
(Sumber)
—-
Recently reported in the Massachusetts Bar Association Lawyers journal, the following are questions actually asked of witnesses by attorneys during trials and, in certain cases, the responses given by insightful witnesses. The following are things people actually said in court, word for word:
Q: What is your date of birth?
A: July 15th.
Q: What year?
A: Every year.
Q: What was the first thing your husband said to you when
he woke that morning?
A: He said, “Where am I, Cathy?”
Q: And why did that upset you?
A: My name is Susan.
Q: And where was the location of the accident?
A: Approximately milepost 499.
Q: And where is milepost 499?
A: Probably between milepost 498 and 500.
Q: Now doctor, isn’t it true that when a person
dies in his sleep, he doesn’t know about it
until the next morning?
Q: The youngest son, the twenty-year old, how old is he?
Q: Were you present when your picture was taken?
Q: Was it you or your younger brother who was killed
in the war?
Q: Did he kill you?
Q: How far apart were the vehicles at the time of the collision?
Q: You were there until the time you left, is that true?
Q: How many times have you committed suicide?
Q: So the date of conception (of the baby) was August 8th?
A: Yes.
Q: And what were you doing at that time?
Q: She had three children, right?
A: Yes.
Q: How many were boys?
A: None.
Q: Were there any girls?
Q: You say the stairs went down to the basement?
A: Yes.
Q: And these stairs, did they go up also?
Q: How was your first marriage terminated?
A: By death.
Q: And by whose death was it terminated?
Q: Can you describe the individual?
A: He was about medium height and had a beard.
Q: Was this a male, or a female?
Q: Is your appearance here this morning pursuant
to a deposition notice which I sent to your attorney?
A: No, this is how I dress when I go to work.
Q: Doctor, how many autopsies have you performed
on dead people?
A: All my autopsies are performed on dead people.
Q: All your responses must be oral, OK?
What school did you go to?
A: Oral.
Q: Doctor, before you performed the autopsy,
did you check for a pulse?
A: No.
Q: Did you check for blood pressure?
A: No.
Q: Did you check for breathing?
A: No.
Q: So, then it is possible that the patient was alive
when you began the autopsy?
A: No.
Q: How can you be so sure, Doctor?
A: Because his brain was sitting on my desk in a jar.
Q: Do you recall the time that you examined the body?
A: The autopsy started around 8:30 p.m.
Q: And Mr. Dennington was dead at the time?
A: No, he was sitting on the table wondering why I
was doing an autopsy.
Ini adalah term terakhir Blake. So I wanna tell you something bout my baby boy.

Ketika bikin chara Blakeyboy ini, gue sama sekali nggak ada persiapan. Belum nyari vis. Belum ngekonsep karakter. Belum ada latar belakang. Benar-benar mendadak coz tadinya gue nggak berniat mendaftar pada term itu. Apalagi ini adalah RPG-an pertama gue. Cari mati? Yep, indeed. Hanya satu hal saja yang udah gue pastikan bahkan sebelum gue klik untuk meregister. Yaitu: anak gue KUDU masuk Slyth.
Dan akhirnya masuk juga.
Yang gue tulis dalam boks karakter my baby boy adalah berikut ini: Cuek. Manipulatif. Ngomong semau-gue. Bisa dikatakan reppan Blake adalah wujud kecuekan si PM. Gue udah basah masuk IH tanpa persiapan, yaudin… kecebur aja sekalian. Jadi repp gue juga cuek bebek, cenderung nulis-semau-gue. Dan ternyata eh ternyata… repp seperti itu malah membuat gue nyaman. Gue jadi menemukan apa yang dicari dari chara gue itu. Apalagi setelah si Nunu en Bayu bilang ‘Bleki tuh cuek-cuek-seksi’. So. Gue menulis dengan gaya cuek sebagai pegangan. Sederhana pula. Nggak mau yang neko-neko. RPG bukan untuk memutar otak (walau untuk beberapa kasus, itu harus). Just- have fun.
Kalo awalnya gue bilang terinspirasi dari Draco Malfoy (versi fanfic), then pada kenyataannya sekarang gue baru sadar: ternyata gue terinspirasi dari Oliver Barrett dari novel Love Story!!! Wakakakakak…. Patokan gue kan emang Blake itu cowok biasa dan apa adanya. Pada dasarnya, gue emang terinspirasi dari gaya cerita pengarangnya si Om Erich Segal. Terinspirasi dengan bahasanya yang sederhana, terinspirasi dengan caranya membangun feel dari deskrip, terinspirasi bagaimana bikin dialog. Gu- gue suukkaaaa… (Marry me, Mr Segal. :”>) Tapi tenang aja, gue nggak plagiat kok. Gue udah punya cara dan gaya sendiri untuk reppan anak gue. *sunglasses*
Ya beginilah. Blake adalah hasil buatan instan yang sebelumnya nggak tau mau gue apain. Bahkan tadinya mau gue unregis en bikin baru yang lebih terkarakter. Nyatanya… dia bertahan sampe sekarang.