Ia seorang penjual ayam potong dan bumbu masakan di pasar, namanya Mijan. Ibu sering menitipkanku padanya jika ia harus belanja di pasar. “Lucunya kamu waktu kecil. Rambutmu kriwil dan mau digendong sama siapa saja.” Namun, ingatanku kabur tentang menunggu Ibu di kios di pasar. Hanya kuingat sekelebatan orang berlalu lalang, di hadapan suara bising mesin serutan kelapa, jajakan mainan, bawang, kacang-kacangan ataupun ketumbar. Mijan, kulihat rambutnya sudah beruban sekarang. Namun, ayam bumbu kuningnya masih yang paling enak sedunia.
Ia seorang dokter gigi, namanya Pak Muryono. Waktu berjalan cepat, aku menyadari betapa tua dirinya ketika kulihat tubuhnya semakin membungkuk. Kacamatanya semakin menebal dan rambutnya semakin memutih. Aku masih ingat ketika ia masih muda dan kliniknya ramai. Gerakannya sigap dan senyumnya ramah seolah mengatakan tak ada yang perlu dikhawatirkan. Kini tempat praktiknya semakin sepi dengan tempat-tempat praktik saingan. Dokter gigi ini telah menua… namun ia selalu kuingat sebagai dokter gigi yang mencabut gigi susu pertamaku.
Ia seorang laki-laki tukang gado-gado dan ketoprak, namanya Jamali. Gerobaknya selalu diserbu oleh segerombolan pemuda tengil dan berkeringat di lapangan basket—kakak-kakakku atau tetangga-tetangga sepantarannya. Maka dari itu secara kurang ajar gado-gadonya nyaris selalu habis ketika gerobaknya sampai di depan rumahku dan hanya meninggalkan wangsit ke ibuku, “Bu, tadi anaknya ngutang 2 porsi.”
Ia seorang tukang kredit, namanya… haha, tak usah sebut namanya. Rumahnya paling besar di kompleks perumahanku. Garasinya muat enam! Baik sekali dan rendah hati dirinya ia sering memberi. Santunan anak yatim, memiliki musola, bahkan pengobatan gratis. Hanya saja hati-hati, ia juga orang yang paling mendekati sosok lelaki yang pernah berkata, “Aku akan membuatkan tawaran yang tidak akan ditolaknya,” seperti yang dilakukannya saat menyerang seorang tetangga kami yang berhutang besar kepada kliennya. Masalahnya orang itu juga tinggal di kompleks kami juga, bodoh. Masalahnya juga ayahku tidak suka keributan. Maka aku hanya bisa terduduk di rumah, menunggu Ayah yang menjadi penengah, terdengar letusan senjata di kejauhan, mendengar pasukan Banten lawan pasukan Ambon, dan berdoa semoga Ayah baik-baik saja. Tentu saja ayahku baik-baik saja, tukang kredit ini kan baik sekali.
Ia seorang tukang gorengan, namanya… sampai sekarang aku tak tahu namanya. Ia tukang gorengan jempolan. Bakwannya garing dan gurih. Isi tahunya banyak dan enak. Masih kuingat ketika ia sering berputar di kompleks rumahku, membunyikan wajannya untuk memanggil pelanggan. Namun, kini ia telah memiliki tempat mangkal di dekat mesjid, sehingga aku semakin jarang melihatnya. Tapi, suatu kali aku mengunjunginya untuk membeli gorengannya yang nikmat 5000 rupiah, ia bilang, “Wah, dulu kamu masih segini nih…” sembari memberikan gambaran imajinatif seorang anak setinggi pinggangnya.
Ia seorang dokter umum, namanya Bu Lily. Tangannya sejuk, gerakannya sigap dan ia sungguh cerdas. Semua penyakitku pun selalu jitu didiagnosisnya. Kliniknya tidak pernah sepi karena bertahun-tahun ia telah tumbuh mendampingi ribuan orang di lingkungan sana. Ia selalu bersedia kapan pun dalam keadaan darurat, bahkan pukul satu tengah malam dengan piyamanya menghadapiku yang panas tinggi saat aku berusia empat tahun, walaupun rumah kami berbeda kompleks. Dan ia mengingat benar Ibu, “Apa kabar, Bu? Wah, saya kenal Ibu sejak anak lelaki yang gemuk itu masih kecil.” Anak lelaki yang gemuk itu pun sudah 34 tahun sekarang.
Ia seorang tukang bakso, namanya… ah, aku juga tidak tahu namanya. Tubuhnya tambun dan ia gemar berguyon. Ia tidak pernah lagi berkeliling di sekitar kompleks. Seperti beberapa tukang lainnya yang kutahu, ia telah mapan dan memiliki tempatnya sendiri. Ia pun masih mengingatku. “Kadang saya masih ketemu Bapak. Sering jalan pagi, kan?” tanyanya. “Iya, sering jalan pagi dulu,” kataku. “Salam untuk Bapak, ya,” tambahnya lagi. “Bapak sudah meninggal setahun yang lalu,” kataku. “Innalillahi…,” sahutnya, “Bapak orang yang baik. Dia sering menyapa kalau lewat.” Dan ia masih mengingat ayahku.
Aku tumbuh bersama orang-orang ini.