Berkat usaha guru, bersama pimpinan sekolah dan dibantu oleh karyawan SMAN *********, sekolah ini tercatat sebagai sekolah unggulan di Jakarta Timur pada tahun ajaran 2003/2004. Saat ini, SMAN ********* termasuk sekolah unggulan di Provinsi DKI Jakarta.
Inilah salah satu potongan yang gue baca dalam salah satu artikel tentang SMA gue. Namun demikian, er… ada yang nggak enaknya juga:
Letak dari SMAN ********* berada di tengah-tengah lingkungan yang tidak bagus. Lokasinya dikenal sebagai “******* ******” yang merupakan basis para pengemis dan kriminal yang sering menodong atau memalak orang. Tetapi pada kenyataannya itu hanya kabar burung, karena sampai sekarang pun tidak pernah terjadi pemerasan atau pemalakan kepada siswa atau siswinya.
[Ngakak] Yeah, gue akui memang lingkungannya kurang bagus dan letaknya memang agak masuk ke perumahan penduduk. Banyak orang memandang itu sisi negatif (karena nggak eksklusif), tapi gue melihatnya oke-oke saja. Beneran, gue sangat menikmati sekolah di sana.
Preman di sana baik-baik, seriously, dan sama sekali nggak pernah memalak. Jika pun malak, mereka akan minta baik-baik (yang kalau nggak dikasih juga nggak akan maksa). Teman gue bahkan pernah meminta, “Cancan, bagi gopek dong, mau beli minum. Haus nih,” dan malah dikasih sama premannya, haha. Ngobrol sama mereka aman-aman saja—ya intinya tetap bisa tahan diri. Cukup aman menunggu angkot atau parkir mobil di luar, walaupun ada preman-preman dekat sana.
Mereka juga protektif. Beberapa kali ada tawuran antarwarga di sana dan kadang ada tawuran anak STM—walaupun sekolah gue sendiri nggak pernah ikutan tawuran. Penduduk dan preman-premannya di sana selalu memberitahu, “Jangan pulang dulu, ada tawuran di jalan.”
My point is, jangan pernah berpikir lingkungan tersebut memberikan pengaruh negatif terhadap murid. Nu uh. Lihat saja salah satu lulusannya sekarang: pelopor dan ketua Tim Olimpiade Fisika Indonesia! Beberapa menang medali di olimpiade juga! Dan gue! (» argument invalid) Sejauh gue sekolah di sana, cuma satu kali melihat sepasang murid berantem. Anak-anaknya memang super ignoran untuk masalah tawuran, gang yang intimidatif atau labrak-melabrak. Gue sendiri sudah terlalu sibuk dan lebih mengurusi bagaimana berhepi-hepi ria melupakan urusan sekolahan yang nejong stesnya (guru-guru di sana killer nilai dengan angelic face—apalagi gue bagaikan idiot di sana dibandingkan teman-teman gue yang lain) dan urusan keluarga gue yang saat itu lagi kacau.
Hubungan baik antara sekolah dan warga sekitar memang dijaga. Pihak sekolah sering melakukan kegiatan yang melibatkan warga, entah bakti sosial atau kurban, atau bantu-bantu pindah warga sekitar saat rumahnya kebanjiran pada musim banjir besar tahun 2004 dulu.
Sangat menyenangkan sekolah di sana. Dan inspiratif. Banyak chara dan karakter fanfic gue yang terinspirasi dari sana.