Perutnya bergemuruh hebat ketika jarum jam nyaris menyentuh angka dua belas. Rasa lapar menggerogoti tenaganya perlahan-lahan dalam tubuhnya yang masih berusia tujuh tahun. Sedetik bagaikan seabad entah sampai kapan ia mampu bertahan tidak ambruk jika harus berdiri.
“Nggak usah sarapan, Bu. Aku pulang jam 10,” katanya sebelum berangkat ke sekolah pagi tadi. Betapa menyesalnya ia berkata demikian. Ia memang bangun terlambat dan harus cepat sampai karena ada upacara bendera tepat pukul 7 pagi. Apa yang bisa diharapkan dari seorang gadis kecil yang tidak sarapan dan harus berdiri selama sejam untuk upacara bendera? Satu hal lagi, ia juga keliru mengenai perhitungan kepulangannya. Ternyata bukan pulang pukul 10, melainkan pukul 12 siang, maka ia pun nyaris tidak mampu berdiri ketika bel berbunyi.
Ia dan sahabatnya berjalan pulang. Tubuhnya sangat lemas dalam rasa lapar yang menjadi-jadi. Setiap lima menit ia harus berhenti sebelum mulai berjalan lagi sementara sahabatnya selalu berada di sisi (“Tenang saja, kita berjalan-pelan.”). Wajahnya pucat, kasihan sekali.
Mereka melewati sebuah lapangan basket ketika akhirnya gadis itu berkata, “Aku capek, aku duduk dulu, ya. Sebentar saja….” Ia pun berjongkok di bawah pohon yang rindang. Monster dalam perutnya menggeram lagi dan membuat rasa laparnya kian tak tertahankan.
“Adik kenapa? Sakit ya?”
Terdengar sebuah suara di sampingnya. Ia meninggalkan ember berisi jemuran beberapa meter di belakangnya. Perempuan itu masih muda dan berambut panjang. Wajahnya hanya teringat samar. Bajunya belel dan wajahnya lelah. Ia seorang pembantu rumah tangga.
“Masuk dulu yuk sebentar,” katanya.
Gadis itu dan sahabatnya bertukar pandang, namun entah kenapa mereka mau saja mengikuti perempuan muda itu masuk ke rumahnya. Mereka melepas sepatu lalu duduk menunggu di ruang keluarga yang rapi. Gadis kecil itu diberikan segelas air putih, demikian sahabatnya juga. Rasa lapar masih bergemuruh. Namun, ia tahu segelas air putih memberikan kekuatan padanya untuk berjalan pulang.
Gadis itu masih tidak mengenal namanya setelah beberapa lama. Belasan tahun lamanya dalam ingatan sekelebatan yang tak lain hanya lapangan, jemuran, siang hari yang terik dan putih-rok lipit merah. Yah, detil yang itu memang tidak penting. Yang penting ia masih ingat seorang perempuan asing dan segelas air putihnya.
—-
Wuehell… gadis kecil itu adalah gue ketika kelas dua SD. But believe me, I wasn’t that nice. The story didn’t that nice either karena dulu pas pulang Ibu malah ngakak waktu gue ceritain (“Aduh, kamu kasian kelaperan ya, Nak.”). Sialannn…
But it’s still a nice day. Walaupun hanya ingatan kecil, rasanya gue harus nulis tentang dia biar nggak lupa. Orang baik itu jangan dilupakan, bukan begitu?