Hujan itu… ketika aku kecil. Kakak-kakakku bermain di garasi yang basah, dengan mobil-mobil mainan tangki “pengangkut minyak”, katanya, dengan pakaian basah menantang influenza di tengah hawa dingin hujan yang deras. Kadang mereka berlari, lalu meluncurkan diri di atas keramik yang licin. Aku bersorak dengan suara kecilku dan mencoba mengikuti para begundal cilik itu, namun aku terpeleset dan kepalaku membentur lantai dan kepalaku semarak bagaikan Tahun Baru. Yeah, hanya satu kegagalan, tapi sisanya sukses sentosa. Tentu saja, aku kan adik perempuan kakak-kakakku.
Hujan itu… ketika aku mengenakan jas hujan. Mantel menutupi seragam putih-merahku dan membuat punggungku terlihat gumuk dengan ransel sekolah yang menyembul di bawahnya. Kami terkikik di bawah guyuran hujan, melompat ke genangan— hup! Airnya muncrat hingga ke rok lipitku. Well, tentu Ibu marah sampai rumah, tapi… semoga besok hujan lagi!
Hujan itu… ketika hujan… Hei, aku tak ingin membicarakannya. Lagipula sudah lama aku telah memaafkannya…
Dan hujan itu… ketika aku ikut silat. (Ya, aku ikut silat- mau apa kau??) Berpakaian hitam-hitam dengan sabuk jingga di tengah lapangan basket yang basah dengan genangan kotor air hujan. Minimum keseriusan dan maksimum kesenangan. Sorakan dan semangat mengalahkan gemuruh hujannya.
Hujan itu… ketika putih-abu-abu. Ketika seorang pemuda mematahkan hatiku. Atau ketika di sudut kelas kosong aku menemani temanku yang hancur. Ketika aku berkata, “Ayo kita geje muter-muterin sekolah,” untuk sebenarnya berkata, “Hei, aku di sini untukmu.” Terlalu banyak ‘ketika’ yang bisa kuceritakan hingga aku tidak tahu harus memulai dari mana.
Hujan itu… ketika banyak hal. Ketika aku berdua dengannya. ketika ayahku meninggal. Ketika aku patah hati lagi dan menangis di bawah payung. Ketika sekarang…
Ketika inspirasi memenuhiku.