Temanku orang yang baik, kami bertemu ketika pertama terbalut putih abu-abu. Ia suka berkelakar, “Mari kita keluar dari sekolah terkutuk ini,” sementara aku mengamini. Ia bercerita tentang kekasihnya, “Kita sudah dua tahun lamanya.” Tanjakan dan tukikan dalam perjalanan bertahun kemudian, hingga aku berpikir mereka pasti untuk selamanya.
Temanku orang yang baik, namun hari ini aku melihat kepedihan di matanya. Mulutnya bercerita dan gesturnya berkata aku sudah baik-baik saja. Namun, matanya menguarkan jutaan duka lama. Ia bercerita tentang mantan kekasihnya, yang bersama delapan tahun lamanya. “Saat itulah nggak tahan lagi,” ia berkata, “gue nangis, dia memohon di kaki gue. Tiga kali! Enough is enough and fuck it- I even had nothing to lose.”
Temanku orang yang baik, ia menangis. Aku memeluknya, berharap mampu memberikan semua kenyamanan yang kupunya. Segalanya telah menjadi masa lalu, aku tahu ia akan baik-baik saja.
Temanku orang yang baik, ia bercerita tentang kesabaran. Juga bercerita tentang keputusan. Tentang kejatuhan. Kemudian tentang menemukan. Ia memulai cerita tentang cintanya yang baru, “Kita sudah tiga tahun lamanya yang dimulai waktu gue masih terluka.” Ia bercerita tentang tanjakan dan tukikan. Ia bercerita tentang kesabaran kekasihnya.
Temanku orang yang baik, akhirnya ia bercerita tentang pernikahan. Lelaki ini orang yang baik, aku mengenalnya. Ah, kau pasti bisa menebak endingnya.