Pernah jalan dari Karet sampai Terowongan Casablanca? Gue pernah. Kemacetan Jakarta itu seperti domino. Jika satu spot menghambat lalu lintas, then sepanjang jalan itu (yang bisa berkilo-kilo-kilometer panjangnya) akan ikut macet. Nah, saat itu entah sedang ada apa, sehingga bisa macet secara tidak senonoh. Angkot dan taksi penuh, bajaj nggak ada, ojek dimahalin nggak kira-kira.
Gue berharap bisa nemu angkot, namun setiap angkot yang ada pun akan selalu penuh karena di sana masih kawasan Sudirman. Alhasil gue harus jalan selama nyaris sejam sepanjang Casablanca.
Sesampainya di Kuningan, segalanya tidak berarti berjalan lancar juga karena masih nggak ada angkot. Setengah jam menunggu pun nggak ada angkot. Entah bagaimana di antara orang-orang yang tidak beruntung itu terjalin juga dialog.
“Macet banget yah?”
“Iya, kayanya dari Tanah Abang.”
“Iya ya dari Tanah Abang.”
“Mobil yang jemput saya juga terjebak macet di putaran.”
“Ibu masih enak masih ada mobil yang jemput.”
“Iya nih. Mau bareng aja?”
“Boleh nih?”
“Iya, naik aja. Mbaknya juga boleh.”
Akhirnya 4-5 orang random yang tidak saling kenal itu naik mobil si Ibu dan supirnya sembari ngobrol random sepanjang jalan padahal gue nggak kenal siapa mereka. Jangan pikir Jakarta masih individualistis. Sosial saat so sial dimaklumkan saja.