Tugas gue untuk mata kuliah Penulisan Populer dengan tema yang ditentukan dosen, yaitu deskripsi ruang (mendeskripkan tempat atau ruangan).
Manusia terakhir yang masih berada di ruang ini, belum beranjak dari bangkunya. Beberapa kali diliriknya arloji di pergelangan tangan dengan gelisah. Bola matanya kembali terpaku pada selembar kertas, sibuk menyusuri barisan semut kalimat dan kata-kata, mencari kesalahan dalam tugas yang dikerjakan para mahasiswa. Pulpen yang terus digenggamnya menggores di beberapa bagian. Mencoret, menyilang, menggores. Ketika selesai memeriksa satu kertas, ia mengambil kertas yang baru.
Begitu seterusnya.
Aku mengamatinya selama beberapa jam di ruangan ini. Detik demi detik berlalu. Beberapa jam dihabiskannya hanya dengan mengoreksi seluruh kertas-kertas laknat yang membosankan. Ia belum keluar dari ruangan sedetik pun padahal sama sekali tidak ada yang menarik di dalam sini. Mengapa ia tidak mengambilku saja dari atas rak? Membuka sampulku dan memasuki dunia imajinasi yang terliar? Menawarkan kisah dan drama yang pilu? Mengajak menjelajah rasa dengan tukikan rollercoaster yang mendebarkan?
Lihat saja, namaku saja sudah terlihat menarik—Pieter en Anouscka oleh Marijke van Coen. Hei—jika tidak menarik, cetakan ketiga seperti aku pasti tidak akan diterbitkan di Belanda. Cetakan ketiga dilepas pada tahun 1978 karena adanya permintaan pasar. Benar, aku diinginkan! Aku menawan! Benar, genre novel romantis penuh drama primadona di masanya.
Mau kuceritakan betapa senangnya diriku ketika ada manusia yang membeliku waktu itu? Wuih, tak terdefinisikan, sungguh. Kala itu musim panas, semua sedang turun ke jalan. Adalah seorang akademisi berkewarganegaraan Belanda yang membuka pintu toko buku di Karnemelkstaat. Ketika ia berjalan menghampiri tampatku, aku tahu ia akan memilihku, entah bagaimana. Hatiku berdesir. Kebahagiaan sebuah buku adalah ketika ia dibeli. Oh, yang terpenting— ia dibaca oleh mereka. Aku akan dibeli, aku akan dibaca, aku dipenuhi kebahagiaan olehnya.
Atau kupikir memang demikian.
Karena… kemudian ternyata aku dikirim ke sini sebagai hadiah. Aku hadiah yang manis.
Aku ingat perasaan itu ketika mereka sangat antusias menerimaku. Berkali-kali aku berpindah tangan untuk dibaca. Halaman terlipat. Kertasku pudar kekuningan. Aku tahu memang terdengar menjengkelkan, namun kenyataan tidak. Semuanya terasa manis untukku. Aku tidak peduli. Hei, aku sedang bahagia.
Kemudian waktu bergulir. Buku-buku baru banyak yang bermunculan. Saat itulah aku menyadari bahwa aku mulai tergantikan. Aku bukan siapa-siapa lagi. Aku tak lagi beranjak dari ruangan ini selama bertahun-tahun.
Begitulah, maka dari itu tak ada yang mengenal tempat ini sebaik diriku—bahkan untuk kamus Bahasa Belanda-Indonesia oleh Woyowasito yang mengaku dicetak tahun 1976. Ruangan berukuran 5 x 10 meter ini telah menjadi dunia kecilku.
Ruangan ini tidak memiliki banyak warna. Dindingnya konstan berwarna putih gading. Warna itu akan terasa membosankan jika saja tidak ada deretan jendela yang memanjang di dinding yang berhadapan dengan pintu masuk. Oh, jangan berharap pemandangan kebun bunga berlatar petang yang indah dan romantis menyambutmu di luar sana. Yang akan kau temukan hanyalah deretan mobil dan aspal keras lapangan parkir yang luas.
Di sebelah kiri pintu masuk, sebuah lemari besar diletakkan di tengah-tengah, membelah ruangan menjadi dua. Di balik lemari, deretan jendela kembali menyambutmu dan memberi pemandangan pelataran parkir yang sama. Beberapa meja kantor diletakkan menyebar yang masing-masing milik dosen yang berbeda. Tumpukan kertas, lembar-lembar fotokopi, dan buku-buku menggunung di atasnya.
Ya, kegemaran para manusia memang biasanya terlihat dari mejanya sendiri. Di atas meja yang berada di belakang lemari pembatas ruangan, terdapat buku-buku linguistik tebal Noam Chomsky, Booij, Peter Newmark dan lainnya. Siapa pun langsung dapat menebak pemiliknya pasti dosen linguistik level tinggi. Tapi, aku benci linguistik. Linguistik itu ilmu pasti yang menghindari fantasi dan imajinasi. Orang-orang seperti mereka takkan pernah menyentuhku.
Kemudian ada sebuah meja lagi yang diletakkan di bagian sudut siku ruangan. Sisi dindingnya berjendela. Di atasnya tergeletak novel-novel bertema konflik sosial dan peperangan. Bungkus rokok kosong bermerek Malboro dan pematik perak terletak di sisinya.
Dulu, pemilik meja itu sering memenuhi ruangan ini dengan bau tembakau. Udara panas dan lembab menggantung di udara—sangat menyebalkan bagi sebuah buku tua seperti diriku. Ya, aku memang benci perokok, namun aku tak pernah membenci dirinya. Takkan pernah bisa. Karena ia… pernah membacaku dulu. Ya, ia menggenggamku ketika masih kuliah di sini puluhan tahun yang lalu.
Dalam beberapa bulan terakhir ini, sudah tak ada lagi manusia yang merokok di ruangan ini. Anne Frank, sebuah novel semi biografi, pernah bilang bahwa sekarang ada ruang khusus merokok yang berada di samping gedung. Kurasa itu yang membuatku semakin jarang melihat si perokok Malboro itu berada di ruangan ini. Ah, lagian kurasa ia juga tidak akan pernah membacaku lagi.
Tapi, pasti masih ada yang lain.
Aku terus berharap. Namun, mereka yang menjadi harapan untuk membacaku hari ini, berangsur-angsur pulang. Si perokok, dosen linguistik, dan rekan-rekannya yang lain. Aku tahu mereka takkan repot-repot kembali ke tempat ini untuk mengambil dan membacaku. Jadi, harapanku yang tersisa hanya pada dosen terakhir yang masih terpaku pada kertas-kertas membosankan itu. Aku percaya akan keajaiban kata-kata ‘suatu hari’. Mungkin hari ini adalah ‘suatu hari’ yang kunantikan, bahwa sang dosen itulah yang akan menghampiriku. Jemarinya menyusuri deretan buku-buku lalu menemukanku dan membawaku dalam genggamannya.
Aku masih mengamati sosok yang masih berkutat dengan kertas-kertas ujian itu. Pandangannya belum meninggalkan kertas-kertas yang dikoreksinya. Jam berdetik, waktu terus berlalu.
Di ‘meja bersama’ yang didudukinya biasanya penuh ketika jam makan siang. Ruangan akan ramai sekali dipenuhi gelak tawa. Cerita-cerita hangat bergulir mengenai para mahasiswa, sementara aku tahu pasti bahwa di tempat lain ada mahasiswa yang juga sedang menggosipkan dosen-dosennya.
Oh, jangan pikir aku tidak tahu apa yang dilakukan anak-anak muda itu, Anak Muda. Walaupun aku tidak pernah keluar dari ruangan ini sejak bertahun-tahun yang lalu, ada masanya ketika ada seorang mahasiswa yang meminjamku dan membawa ke tempat-tempat yang menarik seperti. Kantin, ruangan kelas, atau rumah manusia…
Ah, masa itu sudah lama sekali. Hanya sekelumit bayangan buram yang kuingat mengenai tempat-tempat itu. Tempatku kini hanya di rak paling paling atas lemari buku yang bersandar pada dinding sebelah kanan dari pintu masuk. Rak di tengah adalah tempat bagi buku-buku buku linguistik—primadona dalam rak buku ini. Jih, yang terlusuh pun tak pernah jauh dari perhatian mereka. Kau percaya itu? Manusia lebih memilih buku linguistik dibanding buku semacamku!
Aku iri. Iri tapi tidak pernah mengakuinya. Aku iri pada mereka yang terus diambil. Aku iri pada novel-novel baru keparat yang terletak di bawah rakku. Mereka lebih indah, lebih bersih, dan brengsek… lebih baru… Manusia terakhir yang membacaku adalah mahasiswa tingkat akhir yang memanfaatkanku sebagai bahan skripsi pada lima belas tahun yang lalu—atau bahkan tujuh belas tahun? Entahlah… sudah begitu lama hingga aku tak yakin lagi dengan hitunganku.
Aku terus menunggu waktu. Tak tersentuh di atas sini selain debu. Semakin sedikit manusia yang berminat pada roman tua usang. Aku tidak berhenti berharap. Harapanku masih tersisa untuk hari ini.
Dan si pembawa harapan itu telah selesai mengoreksi kertas terakhir.
Aku gugup sekali ketika ia bangkit dari kursi lalu menggeliat melepas pegal. Memandang ke luar jendela, matahari sudah hampir tenggelam. Perasaanku mencelos ketika ia hendak berjalan ke arah lemari ini. Sial. Ternyata ia hanya mengambil buku Universele Fonologie dari rak tengah. Ia berjalan lagi ke arah lain—berlawanan dengan lemari buku. Harapanku perlahan memudar.
Ia menyambar tas lalu mematikan lampu. Cahaya yang tersisa hanyalah sinar keemasan matahari senja. Aku kembali tenggelam dalam kegelapan. Rasa sedih kembali menyelimutiku seperti petang-petang sebelumnya. Terlebih saat aku mendengar bunyi klik ketika dia keluar ruangan dan mengunci pintu.
Harapanku hari itu sirna.
Perlu beberapa saat untuk menerima kenyataan itu. Tapi, aku tahu bahwa hari terus datang silih berganti. Seperti sebelumnya, hari esok banyak manusia akan terus datang dan pergi. Hari-hari esok juga akan ada ‘suatu hari’. Dan suatu hari nanti pasti ada seseorang yang menghampiri rak paling atas lemari buku ini, jemari menyusuri deretan buku-buku tua, menemukanku, dan membawaku dalam genggamannya.