“Someone like you”, covered by Boyce Avenue.
Gue cuma suka satu-dua lagu cover Boyce Avenue dan salah satunya lagu ini. (Gosh… here his voice is sexy.) Dinyanyikan dari perspektif cowok, membuat khayalan saya jalan lagi. Bagaimana jika suatu hari gue membuat songfic chara baru dengan lagu ini?
Gue ingat nikmatnya blending patah hatinya Blake saat ayah Blake meninggal. Gue memakai lagu “Foolish game” Jewel yang dengan sukses membuat gue galau ketika nulis. Gue suka rasanya. Gue berasa sangat hidup melalui chara gue. Gue mau merasakan blending super sekali lagi.
Gandalf vs Dumbledore: Epic rap battle of history.
Creativity level: wizard. I still vote for Gandalf tho.
Aku ingat tepat ketika mulai menjadi aku hari itu. Hatiku berdebar lebih kencang dari debur pada karang di pagi hari. Tubuhku melayang begitu ringan dan mengalir di sela-sela tuts berdebu. Aku tak peduli tanganku membawaku ke mana dan tak peduli orang-orang sialan itu mengatakan apa. Aku hidup dalam duniaku antara ada dan tiada. Aku masih bukan siapa-siapa, tapi aku ingin hidup untuk puluhan tahun lagi. Aku bahagia. Aku ingin hidup untukmu.
Macha parfait. Es krim teh hijau dipadu kacang merah, krim, cornflakes, kacang merah lagi, teh hijau dan jeli. @Ten Ten Restaurant dengan kupon Disdus
Saya hanya mencantumkan beberapa saja dengan asumsi inilah lagu-lagu yang paling absurd yang kami nyanyikan malam ini di Happy Puppy.
1. Nobody - wondergirl
Ceritanya kita sok-sok ikut korean wave, tapi ternyata sama sekali fail karena memang nggak ada yang suka (apalagi hapal liriknya). Alhasil lirik koreanya cuma bisa dilantunkan, “Nananana naananaa.. ngee ‘eee ngeee ‘ee… nananaaanananaaa,” dan langsung refrain, “I want nobody nobody but you… [clap clap] I want nobody nobody but you…”, then “Nananana naananaa.. ngee ‘eee ngeee ‘ee… nananaaanananaaa,” lagi, then ”I want nobody nobody but you… [clap clap] I want nobody nobody but you…”. EPIC fail. Gue bahkan nggak bisa ikutan na-na-na nge-ee-nge’e dan cuma bisa ngakak guling-guling ngeliatin dia na-na-na nge-ee-nge’e di sana.
2. Maria - Ricky Martin
Gue sastra Belanda, temen gue sastra Inggris, ada juga sastra Prancis, akuntansi dan teknik informatika, dan mendadak juga semua harus bisa bahasa Spanyol untuk lagu ini dan untuk malam ini. Beatnya enak untuk dinyanyikan dan enak untuk goyang, jadi salah pronounciation (dan apalagi salah lirik) pasti dimaafkan yang maha kuasa. Jadi , “Un dos tres! Umpasikopalante Maria, un dos tres, umpasikopatra…”
3. Hamil duluan - lupa siapa yang nyanyi
WTH banged teman gue tahu lagu dangdut ini. Gue nggak berhenti ngakak ngelihat dia dangdutan di sana dengan lihainya, lengkap dengan panggilan alaynya yang melengking campuran suara Nicky Astria, “Hayo goyang yang di sanaaa!” (Sumpah mirip banget.) Aduh, aduh, aduh, anak ajaib… kerja di Bakrie groep nggak kehilangan sisi kealayannya, huahaha. I’m impressed!
4. Goodbye - Air Supply
Oke, lagu ini memang sama sekali nggak absurd. Gue cuma mau share sedikit bagaimana tingkat penghayatan bisa kami setel sampai mentok saat menyanyikan lagu pelan dan balad ini. Huaish… ternyata lagi banyak yang galau malam ini, hahahahahaaaa. Great song indeed.
5. Single ladies - Beyonce
Wuehheell… lagunya memang sama sekali nggak absurd, yang absurd itu justru yang nyanyi. Kita semua tahu lagunya, masalahnya kita benar-benar belum siap dan blank pas ngelihat liriknya. “[All the single ladies] All the single ladies. [All the single ladies] All the single ladies. [All the single ladies] All the single ladies. [All the single ladies] All the single ladies. [Now put your hands up] All sing— eeehhh… udah mulai ya? [Up in the club] Ini gimana?? [Just broke up, Doing my own little thing] Gimana yang ini??? [You decided to dip, And now you wanna trip] Gue nggak tahu, lo aja niihhh!!! [Cuz another brother noticed me] Udah ‘NEXT’ aja, ‘NEEEEXXT’!!!”
—-
Sisanya kami bernyanyi dengan sepenuh hati kok. Sungguh.
“Personnalités Artistiques, Intellectuelles et Sociales”
- John Lennon, 1964.
- Claudia Cardinale, 1961.
- Joan Miró, 1980.
- Jean Cocteau, 1957.
- Pablo Picasso, 1957.
- Bertrand Russell, 1962.
- Alexander Calder, 1976.
- Arthur Miller and Inge Morath, 1978.
- Marcel Duchamp and Max Ernst, 1966.
- Yves Saint-Laurent, 1964.
[Credit : Marc Riboud]